Cerita Masuk Jurusan Sastra (Arab)
![]() |
| Sumber: Pexels.com |
Sengaja aku beri
tanda kurung pada kata Arab di judul. Alasannya sederhana. Aku memang kuliah di
jurusan Bahasa dan Sastra Arab di salah satu universitas Islam di Indonesia.
Sepanjang 4+
tahun kuliah di jurusan tersebut, aku tidak mau 'rugi' hanya dengan mempelajari
sastra yang bahasanya identik digunakan di negara yang bergurun pasir itu.
Justru dari
sinilah kecintaanku pada sastra Indonesia mulai tumbuh. Jurusan yang sebelumnya
tak aku lirik sama sekali karena merasa 'gengsi' mempelajari bahasa sendiri.
Karena salah satu
profesi yang kubidik adalah jurnalis, aku juga mempelajari bebuku jurnalistik.
Bahkan, aktivitasku selama kuliah berhubungan dengan bidang ini.
Selain itu,
menjelajahi karya-karya sastra dari berbagai negara ternyata seru juga. Aku
sangat suka membaca novel-novel terjemahan dari negara Skandinavia, terutama
Swedia.
Kembali ke Masa SMA
Aku sangat suka
masa SMA. Pada saat itulah
kecintaanku pada bahasa mulai tumbuh. Aku mulai tertarik mempelajari berbagai
bahasa, seperti bahasa Inggris, Spanyol, Prancis, dan Arab.
Setidaknya
keempat bahasa itulah yang masih aku pelajari hingga kini. Yah, walaupun
sewaktu kuliah aku malah jatuh cinta pada bahasa Indonesia.
Kegemaranku
belajar bahasa mengantarkanku bercita-cita menjadi diplomat. So,
bidikanku waktu itu jurusan HI atau sastra, terutama Sastra Prancis.
Aku pun selalu
didorong untuk masuk jurusan Sastra Prancis oleh guru bahasa Prancisku dan
mendapatkan dukungan penuh darinya.
"Masuk
jurusan sastra asing, misalnya Sastra Prancis, akan membukamu pada jalan
bekerja di kedutaan. Kalau ambilnya pendidikan kayak Ibu nggak bisa buat
ke sana," begitu kata Bu Guru yang merupakan lulusan Pendidikan Bahasa
Prancis.
Begitulah sekelumit
cerita tentang kenapa masuk jurusan sastra. Awal mulanya karena ingin bekerja
di kedutaan. Sayangnya, aku tidak bisa mewujudkan keinginanku masuk jurusan
Sastra Prancis.
Bagaimana
ceritaku bisa masuk di jurusan Bahasa dan Sastra Arab adalah cerita yang sangat
panjang, sehingga tidak perlu dibahas di sini.
Btw, ada semacam perjalanan cita-cita (sering
dikaitkan dengan profesi) yang kualami. Sewaktu SD, aku bercita-cita menjadi
guru. Menginjak SMP, keinginan sebagai jurnalis mulai tumbuh.
Nah, kalau pas
SMA jawabannya ada di atas. Bagaimana dengan masa kuliah? Hmmm... Aku mulai
tertarik terjun di dunia filantropi dan marketing. Begitulah. NJL. Namanya juga
life. Anggap saja kuliah di jurusan sastra sebagai batu loncatan.
Jurusan Sastra Itu Abstrak
Inilah yang
sering dinyatakan oleh salah satu dosenku yang mengampu mata kuliah bidang
linguistik. Mungkin terhitung lebih dari lima kali beliau mengatakannya.
Karena abstrak, kamu memiliki banyak opsi mau jadi apa. Mau jadi guru bisa. Jurnalis bisa. Penerjemah bisa. Diplomat bisa. Penulis bisa. Kritikus sastra atau linguis apalagi.
Tentu saja, bisa untuk melamar di
pekerjaan yang mencantumkan syarat "lulusan S1 dari semua jurusan". Nggak
menutup kemungkinan juga kamu akan berkarier di lintas bidang. Lihat saja
bagaimana takdir akan membawamu.
Nah, di balik
kesempatan yang banyak itu, di mana letak tantangannya?
Menurutku, ada
pada kemauan untuk 'belajar lebih'. Gini, kalau kamu mau jadi guru bahasa,
kedalaman ilmu kebahasaanmu tidak usah diragukan lagilah. Tetapi, ketika kamu
memutuskan menjadi guru, ada ilmu lain yang harus kamu pelajari, terutama
ilmu-ilmu terkait pendidikan.
Begitu juga kalau
mau jadi wartawan. Punya kemampuan bahasa yang bagus saja tidak cukup. Ada kode
etik jurnalistik yang harus kamu pelajari dan taati, hingga cara penulisan
berbagai jenis berita, teknik wawancara, dan nilai-nilai jurnalisme yang harus
kamu dalami.
Sama halnya
dengan profesi lainnya, misalnya diplomat, penulis, penerjemah, dan sebagainya.
Ibaratnya, di
jurusan sastra kamu hanya mendapatkan 1/2 sampai 3/4. Nah, sisanya tinggal kamu
usahakan sendirilah xixi.
Oh iya, di
jurusan sastra kamu lebih diarahkan untuk menjadi kritikus sastra dibandingkan
menjadi pengarang atau penyair. Kemampuan menganalisis karya sastra mendapatkan
porsi lebih besar daripada latihan menulis kreatif (biasanya tersedia di
jurusan Sastra Indonesia).
Bergelut dengan Cerita Manusia yang Tidak Ada Habisnya
Nah, inilah yang paling kusuka. Sejak masuk di jurusan
sastra, membaca novel, cerpen, atau puisi tidak lagi hanya untuk mengisi waktu
luang dan mencari hiburan, tetapi sekaligus belajar.
Aku belajar bagaimana menemukan "beyond the text"
dari naskah atau barisan puisi yang kubaca, lalu menganalisisnya.
Mungkin kalau tidak masuk jurusan sastra, aku tidak akan
"serakus itu" membaca karya sastra, terutama novel.
Aku menyadari bahwa masih buanyak sekali novel dan karya
sastra lainnya yang belum aku jamah, sehingga tidak ada habis-habisnya buku
yang ingin kubaca. Ini berkaitan erat dengan cerita tentang manusia dan
kehidupannya yang selalu menarik untuk ditelisik.
Segitu saja gambaran dari pengalamanku selama berkuliah di jurusan sastra. Rasanya nano-nano dan bikin geregetan.
