Cari Blog Ini

Drama Anu

 

Drama Anu by Deva Yohana
(Sumber foto: Pexels.com)

Panggilan alam itu sudah tak tertahankan. Aku bergegas menuju tempat pembuangan hajat agak tergesa-gesa. Sungguh, rasanya sudah di pucuk.


Plung

Plung

Plung


Bunyi yang menandakan keluarnya kotoran dari dalam perutku. Lega. Rasanya tubuhku seringan kapas dan tak sesak saat bernapas. Ritual selanjutnya sudah bisa ditebak. Aku harus membersihkan sisa-sisa kotoran hasil makanan dan minuman yang dicerna tubuhku.


Gawat, shower-nya tidak nyala. Tombol flush juga tidak bekerja. Waduh, bagaimana ini? Masalahnya, di depan toilet ada atasanku. Yang lebih mengerikan adalah saat kulihat zat berwarna kuning agak panjang yang mengapung. Lalu, bagaimana pula aku membersihkan bagian belakangku?


Kulihat keran wastafel yang terletak tak jauh dari tempatku membuang hajat. Kutekan ke atas, dan… menyala. Lega rasanya. Setidaknya aku melihat harapan dan terhindar dari aib yang memalukan.


Dengan menengadahkan tangan aku menampung air yang keluar. Namun, tak semudah yang kubayangkan untuk sekadar membersihkan bagian belakang. Aku tertolong adanya tisu di sebelah toilet.


Masalah selanjutnya adalah bagian yang mengambang itu. Kalau aku keluar, takut ada yang tiba-tiba masuk dan menyaksikannya. Mana ada direktur dan tamu-tamunya yang sedang berkunjung di kantor ini. Sungguh akan menjadi aib yang memalukan. Kalau aku tetap di dalam, bagaimana cara mengusirnya?


Berhubung ini toilet duduk, maka sudah bisa dipastikan tidak ada gayung di sini. Tiba-tiba jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Tubuhku mulai lemas. Tanganku mendingin. Berbagai skenario buruk menghantui pikiranku. Aku yakin wajahku sudah pucat pasi.


Di tengah peliknya isi otakku, pandanganku secara tak sengaja mengarah ke tong sampah kecil tempat aku membuang tisu penyimpan aib. Akhirnya aku menemukan cara untuk mengusir gumpalan kuning yang mengambang itu setelah aku keluarkan plastik yang menampung limbah tisu di dalamnya.


Aku tadahkan wadah sampah tadi di atas kran wastafel. Cukup susah karena ukuran benda ini lebih tinggi dari kran, menyebabkan air yang tertampung di dalamnya tidak begitu banyak, setengahnya pun tidak ada. Hal tersebut membuatku kesusahan untuk menenggelamkan bongkahan sisa makanan itu karena butuh aliran yang deras. Arrghh. Makin hilang kesabaranku. 


“Tenang, tenang,” ucapku dalam hati.

“Pasti bisa kok,” lanjutku menyemangati diri sendiri.


Setelah melalui lebih dari 5x siraman, akhirnya bisa hilang juga. Aku bisa bernapas lega. Selanjutnya, aku memastikan lagi apakah semuanya sudah aman? Sudah. Saatnya keluar dari sini. Huft.


Mengetahui saluran air di toilet bermasalah, aku langsung melaporkannya kepada OB terkait supaya tidak ada lagi yang menjadi korban sepertiku. Kau tahu apa jawabannya?


“Oh, nggak rusak kok. Saluran airnya sengaja aku matikan karena shower-nya bocor,” tuturnya dengan tampang datar tanpa merasa berdosa.


DENDENG!!!!!!


Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url