Cari Blog Ini

Sarjana Humoris

Deva Yohana


(Notes: tulisan ini sengaja dirangkai dengan periode waktu yang acak. Silakan susun sendiri masing-masing puzzle ceritanya.)

“S. Hum itu singkatan dari apa sih? Sarjana Humanisasi, ya?” tanya adikku penasaran.

Pertanyaan itu tak hanya dilontarkan adikku, tetapi juga orang-orang di sekitarku. Wajar. Gelar ini tidak setenar S.Pd atau S.Ag hwhw.

“Sarjana Humaniora,” jawabku singkat dengan wajah sedikit datar.

“Humaniora? apaan tuh? Apa hubungannya sama jurusan sastra?”

Aiih.. pusing juga menjawab pertanyaan yang beruntun itu.


##


“Selamat ya, Dep. Akhirnya lulus juga haha”

“Udah lulus, Dep? Selamat ya!”

“Ciya, Sidep lulus.”

“Alhamdulillah, jadi sarjana pertama di keluarga.”

“Lah, udah selesai skripsiannya? Udah wisuda aja”

“Loh, kamu wisuda? Aku kira habis sidang.”

“Kok nggak ngabarin sih mau wisuda?”

Kira-kira begitulah komentar para warga setelah melihat aku memposting foto wisuda. Aku sengaja tidak menyebarkan kabar akan wisuda kepada banyak orang. Hanya keluarga dan teman-teman dekat. Tak heran jika respon mereka beragam. Lagian siapalah aku? Dan, aku sadar diri tidak pernah menghadiri wisuda siapa pun sebelumnya wkwkwk


##

Deva Yohana

“Berarti perlu bikin buket dong?,” tanya mamaku lewat sambungan WhatsApp

“Nggak usah juga nggak papa, Mongs. Ribet dan butuh uang tentunya.” Aku sering memanggil ibuku dengan Mamongs.

“Eits, masa iya anak mama doang yang nggak megang buket. Buat pantes-pantes lah. Nanti Mama bikin yang pakai uang 50 ribuan.”

“Nanti uangnya buat aku kah?,” candaku.

“Heh, ya nggak dong. Uangnya buat ongkos pulang kampung. Ini kan cuma buat formalitas.”

(kami tertawa bersama)

“Nanti mama bawa dua buket, ya. Satu lagi kamu dikasih sama Fitri.”


##


(Tiga minggu sebelum wisuda)

“Haha. Mampus, laptop udah mulai lemot buanget. Untungnya skripsian udah selesai. Eh, tapi kan aku tetep butuh untuk bekerja. Macam mana pula,” gerutuku saat menyaksikan laptop kesayangan pemberian kakakku itu mulai tak berdaya karena dimakan usia. Kasian.

“Aku mau jual laptopku, Dep. Aku butuh uang buat modal dagang,” ucap adikku dengan nada putus asa.

“Lah, kebetulan banget ini laptopku udah gemblung. Laptopmu dijual ke aku aja, gimana? Tapi aku nggak bisa bayar sekaligus. Aku cicil sejuta per bulan. Kalau dijual ke aku kan kamu masih bisa bikin desain. Kamu masih bisa bebas pinjam kalo lagi butuh,” jawabku tanpa beban.

“Oke, aku jual 5 juta.”

“Deal. Aku udah transfer 1 juta dulu, ya.”

“hahaha mampus. Uang yang kupakai untuk bayar laptop itu kan dana yang kusiapkan untuk biaya keperluan wisuda? Macam mana pula ini aku nggak punya duit yang tersisa sama sekali? Pelaksanaan wisuda sebelum gajian woy.”


##


Deva Yohana


“Dep, besok nggak usah foto wisuda di studio nggak papa, kan? Duitnya udah ngepas banget buat ongkos pulang sama ongkos PP Kemayoran-Ciputat.”

“Nggak papa banget, Mam. Udah nggak usah mikirin foto studio. Kapan-kapan aja kita fotonya sekalian ajak Mas Izak. Biar ngumpul sekeluarga. Maaf ya, Mongs. Duitku juga ngepas buat bayar MUA, sewa baju kebaya, dan keperluan lainnya.”


##


“Ya ampun. Harus balik lagi ke UIN nih? Hih, pendaftaran wisuda ini sungguh menyiksaku. Mana harus bolak-balik dari kampus 1 ke kampus 3 atau sebaliknya. Sungguh, sangat tidak ramah bagi pejalan kaki dan pengguna transportasi umum sepertiku.”

“Kamu tahu nggak kenapa kamu harus datang ke perpustakaan dan belum divalidasi?” terang Ibu penjaga perpus fakultas.

“Loh, emangnya kenapa, Bu? bukannya berkas-berkas saya sudah lengkap?”

“Ini bukan masalah berkas. Di sistem kami, ada keterangan kamu belum mengembalikan buku selama 216 hari.”

“Hah, yang benar saja, Bu? Saya sudah mengembalikannya kok. Di rumah saya tidak ada buku perpus.”

“Memangnya kamu sudah benar-benar memeriksa isi rumahmu? Atau, kamu coba tanyakan ke teman-temanmu. Barangkali di antara mereka ada yang meminjam bukunya.”

“Bu, saya belum lama ini merapikan lemari buku saya. Tidak ada buku perpus karena saya masih ingat betul sudah mengembalikannya. Saya juga sudah lama sekali tidak berinteraksi dengan teman-teman kuliah. Apakah harus saya yang salah? Bagaimana kalau misalnya petugas di sini yang luput memasukkan data pengembalian bukunya?,” terangku dengan nada yang mulai meninggi.

“Wah, kamu sudah nggak enak nih ngomongnya. Nada bicaramu sudah nggak enak didengar. Gini aja, coba kamu cari dulu buku-buku yang kamu pinjam di rak, ya. nanti dibantu sama anak magang. Ini kode buku-buku yang harus kamu cari.”


Singkat cerita, aku hanya menemukan dua dari tiga buku yang kupinjam. Satunya lagi entah berada di mana. Aku mengusulkan untuk membeli buku yang hilang itu lewat online dan dikirim langsung ke alamat perpus.


Apakah saranku diterima? Tidak, Saudara-saudara yang budiman. Aku malah disuruh beli di toko buku Batubara atau cari di Senen. Aku menolak permintaan beliau karena aku nggak punya waktu untuk mencari bukunya dan yang terpenting adalah pendaftaran wisuda tinggal menghitung hari.


Pada akhirnya aku dibebaskan untuk mengganti buku yang tidak ada itu karena alasan yang kusebutkan terakhir. Kejadian ini membuatku sangat trauma untuk mengunjungi perpus fakultas. Eh, tapi kan aku udah lulus? Apakah trauma itu berguna?


##


Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB. Ah, sial. Aku bukan hanya telat 30 menit atau 1 jam, tapi 2,5 jam dari jadwal yang ditentukan haha. Mampus, mampus, mampus untuk kesekian kalinya.


Di bawah rintikan hujan yang mulai mengguyur wilayah Ciputat itu, aku membonceng motor yang disetir langsung oleh MUA. Dia memacu motor dengan begitu kencangnya. Menerobos beberapa jalan tikus. Sepertinya aku lebih takut make up-ku luntur daripada nggak disuruh masuk ke ruangan wisuda. Eh, salah ya?


Kira-kira setelah 15 menit perjalanan aku tiba di lokasi. Emang dasar mental kepiting. Aku merasa bahagia ketika melihat beberapa orang yang sama-sama telat, apalagi mereka berasal dari fakultas yang sama denganku.


Yeah, aku masih dibolehkan masuk kok. Aku berdoa di dalam hati semoga keluargaku tidak ada yang tahu skandal kedatanganku yang telat itu. Sialnya, doaku nggak terkabul. Aku kena semprot tiga orang sekaligus, ayah, ibu, dan adikku setelah keluar dari ruangan wisuda.


##


Haha. Sampai sekarang aku masih nggak menyangka. Mantan buruh pabrik Mayora itu berhasil wisuda dan menjadi sarjana pertama di keluarganya.


Menurutku, masa-masa kuliah itu “lucu” sekali. Aku lebih banyak berkelahi menghadapi drama kehidupannya, dari pada berusaha keras untuk menguasai ilmunya. Jadilah gelar S.Hum yang kusandang lebih cocok kalau singkatannya adalah Sarjana Humoris. Sekian.



Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url